dakwatuna.com - Tarbiyah Islamiyah adalah proses
penyiapan manusia yang shalih agar tercapai keseimbangan potensi,
tujuan, ucapan, dan tindakannya secara keseluruhan. Visi tarbiyah
mencetak kader Rabbani dengan sepuluh karakteristik yang kita sudah
ketahui bersama. Singkat kata tarbiyah ingin membentuk generasi unggul
seperti para sahabat terdahulu yang berhasil membangkitkan Islam pada
awal berdirinya.
Di rumah Abu Abdillah Al Arqam bin Abi Al Arqam
para sahabat biasa mengikuti halaqah yang langsung ditangani oleh
Rasulullah saw. Begitu pun tarbiyah, halaqah adalah fondasi dasar
pembentukan kader-kader unggul.
Dalam berbagai teori kesuksesan
Barat, menjadi sukses memerlukan coach. Dalam Halaqoh pun peran murabbi
sangat sentral untuk mengimplementasikan manhaj pembinaan pada
kader-kader dalam lingkaran halaqahnya. Pada proses awal halaqah, di
saat seseorang baru berkenalan dengan Islam yang universal akan terjadi
kecenderungan perubahan radikal pada dirinya, tak jarang polah
tingkahnya pun menjadi radikal. Namun hal itu masih dalam batas yang
wajar, dalam proses selanjutnya akan terjadi pendewasaan dan pematangan
ideologis dalam diri kader tersebut.
Dalam perjalanannya banyak
muncul fenomena figuritas kader terhadap murabbi atau anggapan bahwa
halaqah adalah segalanya, itu biasa terjadi dan solusi terkait pun sudah
banyak. Namun ada beberapa fenomena lain yang berkembang dari
perjalanan halaqah kini, yaitu seputar karakter kader yang terbentuk, di
antaranya berpikiran sempit dan tak bervisi serta macam-macam karakter
tak unggul lainnya yang menggambarkan tak kunjung matang dan dewasanya
sebuah proses ideologisasi. Padahal seharusnya tarbiyah mampu merubah
pecundang menjadi pemenang dan dapat memunculkan potensi yang terpendam.
Apa
penyebabnya? Tak lain karena peranan tarbiyah dzatiyah yang tak mereka
punyai dalam diri. Bagaimanapun tarbiyah dzatiyah atau pengalaman
belajar mandiri justru memiliki peranan besar dalam proses pembinaan
kader itu sendiri.
Kesadaran akan pengalaman belajar mandiri ini
yang harusnya dipantik dalam proses halaqah dan di sinilah sejatinya
peran seorang murabbi sebagai coach. Murabbi harus berperan sebagai
fasilitator dalam melejitkan potensi binaannya, bukan hanya memutabaah
ibadah yaumiyah dan komitmen berjamaahnya saja. Hal ini yang menyebabkan
terkekangnya potensi kader.
Sebuah refleksi untuk para murabbi
termasuk saya, sudahkah kita membuat visi halaqah binaan kita? Jika
sudah, apakah visi tersebut dijiwai sebagai acuan dalam proses pembinaan
atau tidak? Gagal berencana sama saja merencanakan kegagalan. Tak ada
visi dalam halaqah yang pada akhirnya menjadi penyebab tumpulnya potensi
kader, karena Tarbiyah itu melejitkan potensi bukan mengekang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar