Minggu, 31 Juli 2011

ya inilah CEO in action di vidio tron semarang
dgn mengangkat isu tentang TUMBLER COUPLE ,anak2 ceo berusaha mengajak para pasangan untuk beralih menggunakan tumbler.ya kita peduli dgn lingkungan tidak harus dengan hal yang mahal kok greenlife style bisa kita lakuin dimanapun tempatnya termasuk di tempat umum.jangan pernah malu dgn apa yang kita lakuin kalo itu juga memberikan manfaat buat lingkungan kita yang semakin hari sampah yang ada suadah mulai menumpuk
wow dasyat sekali kan ya..sudah menumpuk segunung ..udah tak terkira jugaberapa jumlah samaph yang kita keluarkan per harinya..pastinya sangtlah bnyak sekali itu...

Sabtu, 30 Juli 2011

STOP MEROKOK BUAT LINGKUNGAN JUGA LO...

Semua barang yang kita konsumsi memerlukan energi dalam proses pembuatannya. Dari yang termudah seperti memakan strawberry yang kita petik sendiri sampai kertas yang kita pakai sehari-hari. Seperti tanaman lainnya, strawberry memerlukan waktu untuk tumbuh dan dalam perjalanannya memerlukan air, pupuk dan tenaga manusia juga. Kertas mungkin memiliki rantai yang lebih panjang, dari penanaman pohon, penebangan, lalu melalui semua proses yang ada di pabrik yang memerlukan banyak sekali energi, sampai transportasi ke tempat dimana kertas itu kita pakai, dan kita buang.
Paling tidak kalau kertas tadi dipakai untuk keperluan bisnis seperti membuat kontrak, sales order, atau laporan manajemen, kertas tersebut mendapat nilai lebih. Tetapi kalau kita bicara tentang rokok, maka nilainya mungkin lebih banyak negatifnya daripada nilai tambahnya. Bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi pada akhirnya rokok tersebut hanya dihisap untuk dibuang, lalu sampah puntung pun menjadi problem masyarakat karena hanya sekitar 10-15% puntung rokok yang dibuang secara benar. Yang lainnya dibuang sembarangan ke jalan-jalan yang akhirnya memenuhi sungai dan laut kita.
Kalau kita bicara soal asap rokok, memang dibandingkan kita bernafas kadar CO2 diasap rokok tergolong kecil, tetapi kalau bernafas dan merokok pada akhirnya total CO2 yang dikeluarkan lebih besar dari yang seharusnya. Asap rokok juga menjadi polusi bagi perokok pasif yang menghirupnya serta membuat sekitarnya bau juga. Tetapi memang yang membuat merokok itu merusak lingkungan bukan karena perbuatan merokok, tetapi pembuatan rokok itu sendiri yang pada akhirnya rokok tersebut akan dibuang. Kita tahu bahwa dengan membeli rokok maka kita akan membuang pembungkus rokok dan puntungnya.
Pembuatan rokok memerlukan banyak sekali proses serta industri pendukung yang bila kita perhatikan memakai banyak sekali energi.
  1. Kertas rokok. Seperti kertas lainnya, kertas rokok juga memerlukan pohon yang diproses menjadi bubur sebelum akhirnya dicetak menjadi kertas rokok dan di printing untuk nama dan logo
  2. Tembakau. Tembakau adalah campuran utama rokok yang dalam prosesnya memerlukan air, pupuk, bahan kimia, pestisida, hingga gudang, transportasi, serta manusia yang menjalankan semua ini.
  3. Bumbu yang dipakai untuk blending dengan tembakau seperti cengkeh dan bahan lainnya yang perlu diproses.
  4. Proses melinting secara manusia
  5. Proses manufacturing yang memerlukan mesin dengan kebutuhan energi yang besar
  6. Industri pembungkus rokok dan printing
  7. Transportasi ke setiap daerah penjual
  8. Gudang yang diperlukan dalam transit atau gudang distribusi
  9. Dan lainnya yang belum tersebut hingga proses pembuangan sampahnya
Itulah, memang setiap barang tidak bisa tidak melewati banyak proses yang juga dilewati oleh rokok, tetapi bila pada akhirnya rokok tersebut hanya untuk dibakar, dihisap dan dibuang, itu benar-benar membuang hasil bumi, energi dan tenaga sia-sia yang akhirnya juga menyebabkan penyakit.
Apa kita mau terus digerogoti oleh kecanduan yang merugikan Bumi kita, lingkungan, dan pada akhirnya diri kita sendiri? Stop Merokok! Bukan untuk kesehatan saja tetapi juga lingkungan. Dan pada akhirnya kalau kita bisa Stop Merokok, kita juga akan menghemat uang juga.

BUMI SUDAH UZUR

Akhir-akhir ini, cuaca khususnya di semarang sungguh extreme. Sebentar panas, sebentar hujan deras dan sering juga disertai badai. Dan saat ini juga sedang banyak pembahasan tentang tenggelamnya semarang pada kurun waktu beberapa tahun lagi.

Pada saat saya mudik beberapa waktu lalu, saya sempat silaturahmi ke sebuah pedesaan di daerah NGANJUK. Ada seorang kakek berkata kepada saya : “dunyo iki wis tuwek, wis pikun. Wayahe panas kok malah udan. Biasane lek wis tuwek ndang mati”, yang artinya “Dunia / bumi ini sudah tua, waktunya kemarau kok jadi hujan. Biasanya kalau sudah tua, segera mati”. Serem ga tuh kata2 kakek tadi ?
Banyak orang khususnya wanita yang sibuk untuk bersolek agar tampil awet muda. Nah kenapa tidak kita lakukan untuk bumi ? Salut dengan Green Peace yang selalu mengkampanyekan tentang penyelamatan bumi.
Kita ga harus ikut green peace atau lembaga semacam itu, kita bisa memulai dari diri kita sendiri. Berikut beberapa hal yang menurut saya perlu kita kerjakan untuk menyelamatkan bumi (paling tidak mengerem proses global warming) :
1. Hemat Kertas.
a. Dengan tidak mencetak / print kertas ATM kalo hanya untuk cek saldo. Pembahasan tentang kertas ATM ini telah saya bahas tahun kemarin di sini
b. Mencetak / print dengan kertas bekas yang biasanya halaman belakangnya masih kosong, apabila terpaksa harus ngeprint hal yang dirasa perlu (seperlunya saja)
2. Hemat Air.
a. Khususnya kaum muslim, jangan terlalu membuka kran air pada saat wudhu. Saya perhatikan sebagian besar orang membuka kran air dengan lebar pada saat wudhu. Cukup kecil saja yang penting bagian yang harus dibasuh kena air. Karena banyak air yang dibuang apabila kran dibuka lebar2. Misalnya pada saat membasuh muka, pada saat kedua tangan membasuh muka maka air yang jatuh sangat banyak dan mubadzir
b. Usahakan membawa botol minum sendiri yang terbuat dari kaca atau yang bisa digunakan berkali2. Saya sangat bangga dengan Australia yang telah mencanangkan program ‘Bundy on Tap’. Australia telah melarang perusahaan air minum menggunakan botol plastik yang sekali pakai (seperti botol aqua sekarang ini). Australia mewajibkan warganya menggunakan botol yang bisa berkali2 pakai. Dengan itu, penggunaan plastik semakin mengecil. Australia juga menyediakan air minum gratis di jalan2 untuk warga yang kehausan. Kapan Indonesia bisa begitu ?
3. Hemat Listrik

a. Dengan mencabut perangkat2 yang tidak digunakan. Misalnya setelah selesai men-charge HP, cabut chargernya.
b. Bila meninggalkan rumah, cabut kabel2 yang tidak digunakan. Seperti TV, cabut kabel power dari colokan listriknya (jangan hanya mematikan power TV aja).
c. Gunakan AC secukupnya saja
d. Matikan lampu bila ruangan sudah terang karena sinar matahari

4. Kurangi Penggunaan Tisu
Gimana cara mengurangi penggunaan tisu? Belilah sapu tangan dan bawa kemana saja. Kenapa hemat tisu? Silakan dicari apa sih bahan baku dari tisu, kayu adalah salah satu jawabannya. Jadi lagi-lagi dengan menebang pohon.

5. Hemat Bahan Bakar
(point nomor 3 sudah termasuk hemat bahan bakar secara tak langsung).
Ga ada salahnya mencoba ‘bike to work’. Saya salut dengan pengendara motor di daerah Jogja. Pada saat itu hampir di semua perempatan (traffic light) apabila lampu merah, sebagian besar mereka mematikan mesin motornya. Padahal lampu merahnya tidak selama di Jakarta. Salut..
Dan tidak ada ruginya bila menggunakan kendaraan umum.
6. Tanam pohon di halaman rumah, apabila tidak punya halaman bisa tanam di pot saja. Apabila masih tidak bisa, cukup hemat energi dan berpartisipasi cegah global warming.
Mari selamatkan Bumi. Hanya bumi tempat tinggal kita. Hanya di bumi rumah kita berdiri

10 TIPS BERHEMAT ALA LINGKUNGAN

Ada sepuluh ide untuk melakukan penghematan dengan cara sederhana, yang mudah dilakukan tanpa harus menjadi pelit.

1. Bawa air minum
Membeli air minum dalam kemasan tak hanya menambah sampah plastik tapi juga memboroskan uang. Bayangkan, jika dalam sehari Anda membeli sebotol air minum dengan harga Rp 3000, dalam sebulan Anda menghabiskan Rp 90 ribu. Sebagai gantinya, belilah botol minum sendiri — yang bisa diisi ulang.

2. Membawa daftar belanjaan
Buatlah daftar belanjaan sebelum pergi berbelanja ke toko. Pastikan daftar Anda hanya berisikan barang-barang yang memang Anda butuhkan. Hanya barang yang masuk daftar yang boleh dibeli, lainnya tidak.

3. Berjalan kaki lebih sering
Cobalah jalan kaki jika tujuan Anda cukup dekat. Kurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan gunakan kendaraan umum. Anda juga bisa mencoba memberi tumpangan dengan teman yang searah. Informasinya bisa didapat melalui beberapa komunitas yang berbagi kendaraan seperti www.nebeng.com.

4. Manfaatkan perpustakaan
Anda tidak perlu senantiasa membeli buku baru. Kunjungilah perpustakaan untuk mencari buku yang diperlukan.

5. Kurangi makan di luar
Usahakan memasak dan membawa bekal makan siang untuk di kantor. Memasak akan menghemat banyak biaya dibandingkan selalu makan di luar.

6.Jauhi ATM asing
Menarik uang dari bank selain bank Anda bisa menyebabkan pemotongan uang dari rekening. Jumlahnya bervariasi mulai dari Rp 3000 hingga Rp 20 ribu. Nilai ini nampaknya kecil, tapi bayangkan jumlah totalnya jika sering dilakukan.

7. Membuat kopi sendiri
Daripada membeli kopi mahal di kafe, lebih baik minum kopi buatan sendiri. Sedikit-sedikit mengirit lama-lama jadi bukit.

8. Kurangi ke mal
Jalan-jalan ke mal bisa mendatangkan banyak godaan untuk membeli barang secara impulsif. Maka itu, lebih baik habiskan waktu libur dengan piknik ke taman atau museum.

9. Manfaatkan kartu diskon
Beberapa toko menawarkan diskon bagi pelanggan yang punya kartu anggota. Manfaatkan hal ini dengan bijak. Awas, ini berbeda dengan membeli barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

10. Daur ulang
Kreatiflah: ada banyak ide yang bisa dilakukan untuk mendaur ulang barang yang tak digunakan lagi. Misalnya, memadukan pakaian lama dengan baju lain sehingga menjadi lebih menarik.

AIR (BUKAN) MINERAL

Ada 2 (dua) alternatif kesalahan penyebutan yang hampir selalu dijumpai berkaitan dengan penyebutan produk air minum dalam kemasan. Kesalahan yang pertama adalah kecenderungan untuk menyebut sebuah merek –Aqua– untuk menyebut jenis produk tersebut.
Kesalahan yang pertama ini lahir sebagai generalisasi nama produk, seperti halnya penyebutan Odol untuk menyebut jenis produk pasta gigi. Padahal, Odol adalah sebuah merek pasta gigi yang dulu sempat populer, seperti halnya Aqua pada jenis produk air minum dalam kemasan.

Kalau saya tidak salah, merek Aqua adalah pelopor produk air minum dalam kemasan di Indonesia pada dekade 80-an. Selain karena dia sebagai pelopor, nama mereknya pun berarti air. Sehingga dengan gampang segera terjadi generalisasi penyebutan nama untuk produk sejenis.

Sama halnya dengan nasib Odol –si pembeli yang berniat beli “odol” pada kenyataannya mengambil pasta gigi merek lain, mungkin itu Pepsodent, Sensodyne, dsb– nasib Aqua pun tidak jauh berbeda. Pembeli yang bilang ke penjual bahwa ia ingin membeli Aqua, bisa jadi dikasih merek lain dan tidak akan protes, mungkin itu VIT, AdES, dsb. Pada bagian ini, saya selalu tersenyum-senyum sendiri dengan sebuah produk sejenis di Malaysia, Cactus. Pada beberapa reklame-nya tertulis “Air Cactus”. Entah kenapa, selalu saja secara instan saya selalu membacanya sebagai Air Kakus!

Pada bagian ini, nasib Aqua sedikit lebih baik dibanding dengan nasib Odol. Pembeli fanatik mungkin masih bisa memaksa untuk hanya diberikan produk yang bermerek Aqua, bukan yang lain. Sedang Odol, tidak bisa berharap seperti itu. Karena produknya sudah wassalam.
Pada kesalahan akibat generalisasi nama produk ini, sebenarnya secara sadar atau tidak, pembeli tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Mungkin masalahnya adalah, dia perduli atau tidak. Hal serupa juga terjadi pada produk legendaris dari Indonesia, Teh Botol Sosro.
Sekarang, kesalahan jenis yang ke-dua. Pada kesalahan jenis yang ke-dua ini, saya berani bertaruh, banyak orang yang tidak tahu. Sebagian orang yang enggan menyebut merek –bisa itu karena untuk menghindari kesalahan jenis pertama di atas, atau memang netral-netral saja terserah merek apa– akan menyebut jenis produk air minum dalam kemasan ini dengan sebutan air mineral!
Mungkin anda yang sedang membaca tulisan saya ini termasuk yang terperangah. Bisa jadi karena selama ini anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menyebut jenis produk ini dengan sebutan air mineral.
Walau kelihatannya sepele, ini adalah kesalahan besar. Air minum dalam kemasan bukanlah produk air mineral. Secara khusus, ada beberapa merek produk yang benar-benar adalah air mineral. Di dalamnya memang mengandung banyak zat mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Bukan sekadar air minum bersih dan sehat seperti yang selama ini dengan mudah kita temukan di penjual-penjual kelas pinggir jalan. Dari segi harga, produk air mineral sungguhan berharga beberapa kali lipat dari air minum dalam kemasan yang biasa kita jumpai. Intinya, mineral water berbeda dengan drinking water.
Sebagai pembuktian sederhana, kumpulkan berbagai botol kemasan air minum yang selama ini sering disebut sebagai air mineral, cari-lah tulisan yang meng-klaim produk tersebut sebagai air mineral. Tidak akan ada satu kata pun yang akan anda temukan. Apalagi keterangan jumlah komposisi zat-zat mineral yang terdapat dalam produk tersebut. Yang ada hanyalah penyebutan bahwa produk tersebut adalah air minum.
Pihak produsen tentunya tidak akan sembarangan menulis di keterangan produknya bahwa produk tersebut adalah air mineral. Bukan hanya karena memang di dalam air yang mereka jual tidak mengandung zat-zat mineral, tapi juga karena resiko tuntutan akibat pembohongan publik. Untuk yang terakhir ini, bukan produsennya yang hendak berbohong. Tapi entah dari mana mulainya, pihak konsumen lah yang dengan gegabah menyebut jenis produk ini sebagai air mineral!

MENGUTIP DI BALIK ARTI BOTOL PLASTIK

Memang masyarakat kita punya kebiasaan mengisi ulang botol plastik. Alasannya, sayang membuang kemasan yang masih bagus. Padahal, tidak semua botol plastik boleh dipergunakan kembali. Bahaya kesehatan mengintai dari balik kemasan botol plastik yang diisi berulang-ulang. Mulai dari iritasi kulit, gangguan hormon, saluran pernapasan hingga kanker.
Dan, bukan hanya botol plastik saja lho, yang sebaiknya tidak digunakan berulang. Produk plastik lain seperti wadah makan, penutup makanan hingga botol susu, juga perlu dicermati.

Kode Penanda
Lalu bagaimana mengetahui kemasan plastik mana yang boleh dan tidak boleh digunakan kembali? Umumnya, setiap wadah plastik dicantumi tanda atau kode angka yang menandakan bahan pembuatan kemasan plastik. Kode angka berada di dalam logo daur ulang berbentuk segitiga dan bisa Anda temui di dasar atau bagian bawah kemasan.

Kode-kode itu dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standarization). Tujuannya, untuk memudahkan konsumen mengenali bahaya dan keamanan wadah yang terbuat dari plastik. Nah, tanda pengenal plastik itu sendiri dibagi menjadi 7 kelompok. Apa saja makna yang berada di balik angka-angka tersebut?

Angka 1
Tanda ini biasanya disertai tulisan PET (polyethylene terephthalate). Plastik jenis ini berwarna jernih atau transparan dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman ringan lain. Yang perlu diperhatikan adalah botol dengan bahan ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Mengapa? Pertama, desain leher sempit pada botol membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan bakteri dari tangan dan mulut dapat tumbuh di botol. Kedua, bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (yang dapat menyebabkan kanker) dalam jangka panjang.

Angka 2
Umumnya, kode ini disertai tulisan HDPE (high density polyethylene). Jenis plastik ini memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasa dipakai untuk botol kemasan susu berwarna putih, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan atau minuman yang dikemasnya. Meski begitu, sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian saja. Pasalnya, untuk membuat PET dan HDPE digunakan senyawa antimoni trioksida. Senyawa kimia itu mudah masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan. Kontaminasi senyawa dalam periode lama akan menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bagi perempuan, senyawa ini bisa meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran.

Angka 3
Inilah jenis plastik yang paling sulit didaur ulang. Pada kemasan yang mengandung plastik jenis ini biasanya tertera logo daur ulang (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya serta tulisan V yang berarti PVC (polyvinyl chloride). Plastik ini bisa ditemukan pada pembungkus (wrap) dan beberapa botol minuman kemasan. Jenis ini berbahaya untuk kesehatan karena mengandung DEHA (Di-2-etil-heksiladipat) yang dapat bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15 derajat celsius. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas plastik ini berbahaya untuk ginjal, hati dan penurunan berat badan. Sebisa mungkin hindari pemakaian jenis plastik ini. Cari alternatif pembungkus lain saja seperti plastik dari polyethylene atau bahan alami, misalnya daun pisang atau daun jati.

Angka 4
Biasanya ditulis bersama kode LDPE (low density polyethylene). Karakter plastik ini kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dengan permukaan agak berlemak. Terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Pada suhu di bawah 60 derajat Celsius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa kimia. Daya proteksinya terhadap uap air tergolong baik. Namun, kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan tapi dapat didaur ulang. Bahan ini baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemasnya.

Angka 5
Tulisann PP (polypropylene) biasanya hadir bersama angka ini. Karakteristik plastik ini lebih kuat, transparan yang tidak jernih atau berawan, ringan dengan daya tembus uap yang rendah, memiliki ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. PP adalah jenis bahan plastik terbaik dan aman, terutama untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol susu untuk bayi serta wadah plastik yang bisa dipanaskan dalam microwave. Carilah wadah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

Angka 6
Terbuat dari bahan plastik jenis PS (polystyrene). PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene ketika makanan itu bersentuhan dengan wadah. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, karena berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada masalah reproduksi, pertumbuhan dan sistem saraf. Selain itu, bahan plastik ini sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat panjang dan lama.

Angka 7
Biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis plastik ini terbagi 4 yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER dapat ditemukan pada botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik, dan plastik kemasan, botol susu bayi, gelas Balita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan, termasuk kaleng susu formula.
Sebenarnya PC tidak dianjurkan sebagai wadah karena dapat mengeluarkan bahan utamanya, Bisphenol A ke dalam makanan dan minuman. Efeknya, bisa merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Sedangkan SAN dan ABS baik digunakan sebagai kemasan karena memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu. Biasanya SAN terdapat pada mangkuk miksaer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi. Sementara ABS digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.

Jumat, 29 Juli 2011

7 ALTERNATIF PENGGANTI AIR

Setelah melakukan aktivitas fisik yang menguras keringat, kita membutuhkan cairan untuk mengganti cairan yang terbuang. Air memang yang terbaik, tetapi kebutuhan cairan tubuh bisa dipenuhi oleh sumber-sumber lainnya.
Nancy Clark, penulis buku Nancy Clark's Sports Nutrition Guidebook, mengatakan, ada beberapa alternatif untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan cairan. Sebagai patokan bahwa tubuh cukup terhidrasi adalah buang air kecil setiap 2-4 jam.
1.Susu tanpa lemak
Menurut Clark, susu menghidrasi tubuh lebih baik daripada minuman energi. Kandungan sodiumnya lebih optimal. Namun, kandungan lemak dalam susu bisa menghambat penyerapan karena itu pilihlah susu tanpa lemak atau rendah lemak untuk mengganti cairan secara cepat. Alternatif lain pilih susu cokelat. Penelitian terbaru menunjukkan, susu cokelat memulihkan stamina lebih cepat setelah olahraga seperti halnya minuman sport karena kandungannya merupakan kombinasi dari protein, karbohidrat, sodium, dan antioksidan.
2. Kuah sup ayam
Resep yang sering dipakai para penderita flu ini ternyata bisa mengganti cairan tubuh yang hilang. Dalam satu mangkuk sup ayam terdapat 840 miligram sodium dan 14 gram karbohidrat. Anda bisa menaruhnya dalam termos sehingga tetap hangat dan enak dikonsumsi setelah berolahraga pada pagi hari.
3. Semangka
Air memang pilihan pertama untuk mengganti cairan setelah olahraga dengan intensitas tinggi. Namun, sebenarnya 92 persen kandungannya adalah air. Sementara itu, pesaingnya adalah buah semangka. Selain air, dalam satu cup semangka terkandung 12 gram karbohidrat yang akan membantu tubuh menyerap cairan dan 173 miligram potasium yang akan berkerja sama dengan sodium membuat tubuh tetap terhidrasi.
4. Salad
Bila Anda merasa perut kurang nyaman langsung mengonsumsi banyak air minum, cobalah mengasup salad. Selada 90 persennya adalah air. Sayuran hijau lain juga kaya akan air. Anda bisa mengombinasikannnya dengan sumber protein seperti ikan.
5. Nasi
Nasi merupakan penyerap cairan yang baik. Nasi bertindak seperti kendaraan bagi air saat proses pemasakan. Karena itulah, nasi bisa menjadi alternatif pengganti cairan.
6. Soda
Ya, ini bukan kesalahan ketik. Clark menjelaskan bahwa kafein, gula, dan air bisa menjadi minuman setelah olahraga.
7. Es krim
Tak ada salahnya mampir ke gerai es krim setelah latihan intensif di gym. Idealnya, pilih yang versi ringan dan satu porsi saja. Setelah latihan yang menguras energi, tubuh akan mendapatkan cairan dari es krim beku.

sampah plastik

Sabtu malam minggu. Keramaian manusia di pusat perbelanjaan. Sungguh bukan pemandangan baru. Tapi saya baru tahu, mengantre di kasir supermarket di hari Sabtu itu bisa menjadi pengalaman yang begitu miris dan mengiris.
Saat itu saya belanja di sebuah supermarket bersama sahabat saya. Sambil menunggu pembelanja sebelum saya yang belanjaannya sampai dua troli, saya mengamati sesuatu. Lewat pengeras suara, beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).
Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa. Tapi tidak kantong belanja tadi.
Dan, berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero toko mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula.
Sambil mengamati gerakan tangan gesit petugas, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, kantong-kantong plastik setengah penuh itu hanya berfungsi sebagai alat angkut dari kasir menuju troli, lalu dari troli menuju bagasi mobil, lalu dari mobil menuju rumah. Kalaupun beberapa barang beda kategori tersebut harus digabung, asal tidak terkocok-kocok di mesin pengaduk semen, seriously, what harm can possibly be done with those stuffs?
Saya masih mengamati troli-troli lain yang didominasi tumpukan kresek putih. Rata-rata orang keluar dari sana membawa 4-6 kantong kresek. Belum termasuk plastik-plastik yang membungkusi buah dan sayur. Jika semua ini direkam dalam video, lalu satu demi satu gambar dihilangkan dan dibiarkan gambar plastiknya saja, niscaya kita akan melihat buntelan-buntelan putih licin yang mengalir bagai sungai dari supermarket menuju parkiran.
Supermarket yang lain di kota saya punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian dus. Dan sudah ada dus-dus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Beberapa kali saya mengantre di kasir supermarket itu, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti supermarket pertama, Supermarket kedua ini juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma. Wow.
Kasir di salah satu mini market dekat rumah saya selalu bertanya pada pembeli: “Apakah struknya perlu dicetak?” dan ketika kita menjawab ‘tidak’ (karena seringnya memang tidak dilihat lagi juga), maka dia tidak akan mencetakkan struk yang berarti penghematan kertas.
Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/minimarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu ‘lebih mahal’ dan ‘repot’, sementara yang sebaliknya justru ‘gratis’ dan ‘praktis’? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan “Selamatkan Bumi” di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.
Pikiran saya terus berandai-andai: jika memang pemerintah tidak berbuat sesuatu untuk menekan produksi dan penggunaan kantong plastik, dan andai saya adalah pengambil keputusan di rantai supermarket tadi, maka saya akan menetapkan harga 2000-5000 rupiah untuk satu kantong kresek, yang barangkali akan lebih efektif untuk ‘memaksa’ orang membawa kantong sendiri ketimbang menjual kantong ramah lingkungan seharga 10 ribu. Dana dari ’sanksi’ kantong kresek tersebut lalu disalurkan untuk kegiatan penghijauan dan aktivitas lingkungan hidup lainnya. Di sebagian negara di Eropa, ternyata pengenaan biaya pada kantong belanja telah berhasil menurunkan sampah kantong plastik hingga 90%.
Saya keluar dari aliran sungai plastik tadi menuju mobil. Hati masih miris dan teriris. Sesekali bertanya, apakah khayalan saya ketinggian? Apakah realistis jika berharap pihak produsenlah yang berani muncul dengan kebijakan tegas, sementara para konsumennya sendiri tidak mau belajar mengedukasi dan melatih dirinya? Namun, sampai kapan kita bertahan di balik sekat-sekat kaku yang memisahkan pembeli dan penjual, pemerintah dan masyarakat? Sementara belitan plastik yang mencekik tanah dan air Indonesia sudah terlihat jelas di depan mata.

Tema Pameran Mobil “Sustainable Green Technology” Kok Tidak Nyambung?

Hampir seminggu pameran mobil internasional di Jakarta berlangsung. Saya mengamati tema pameran ini di publikasi media adalah “Sustainable Green Technology”. Sayangnya, mobil-mobil yang dipamerkan nampaknya 90% tidak ada yang bertematik “green”, alias yang dipamerkan mobil dengan teknologi biasa-biasa saja.
Ajang pameran ini lebih banyak dipakai oleh produsen mobil dan agen untuk menjual mobil sebanyak-banyaknya. Justru ini bertentangan dengan semangat “green” itu tadi karena semakin banyak mobil di Jakarta, akibatnya terhadap polusi udara meningkat dengan pesat karena penambahan polusi tidak hanya berasal dari penambahan mobil, tapi juga berasal dari semakin lamanya kemacetan terjadi. Jalanan sudah stagnan.
Di pameran ini, ada memang produsen dan agen yang menampilkan mobil listrik dan hybrid, tapi sama sekali tidak dominan. Gema “sustainable green technology” selain yang ada di slogan tidak terasa semangatnya.
Bagaimana sih menentukan tema pameran ini dan bagaimana mengontrol peserta untuk bisa menggemakan tema itu supaya kesadaran terhadap bumi dan lingkungannya bisa lebih terealisasikan dalam teknologi mobil-mobil yang sedang dijual?
Atau tema ini diambil dari langit begitu saja, mengikuti semangat masyarakat yang begitu menginginkan perlindungan lingkungan lebih baik dan pencemaran udara akibat kemacetan sehari-hari bisa dikurangi?
Kalau memang semangat moralnya “green technology”, hasil cepatnya bisa diberikan dalam bentuk kontribusi mengurangi kemacetan jalanan di Jakarta. Tidak perlu muluk-muluk dengan “technology” canggih segala macam. Cukup asosiasi produsen mobil mendukung program pemerintah secara nyata untuk mengurangi kemacetan di Jakarta dengan cara misalnya mengurangi penjualan mobil di Jakarta untuk sementara waktu selama setahun misalnya, sehingga jalanan Jakarta tidak menjadi lebih padat.
Asosiasi produsen mobil harus lebih mengkonsentrasikan penjualan mobil di luar Jabodetabek yang masih memungkinkan pertumbuhan mobil. Jujur saja, kalau pikiran kita terang, Jakarta sudah tidak bisa menampung tambahan mobil lagi karena pemerintahnya tidak punya kemampuan dan kemauan membangun transportasi masal seperti di Solo dan Makassar. Menjual mobil semakin banyak di Jakarta sama saja dengan tidak mempunyai kepedulian lingkungan.
Kalaupun ada penjualan mobil di Jabodetabek, hanya boleh menjual mobil-mobil kecil yang tidak memenuhi jalanan dan tidak mengeluarkan asap terlalu banyak.
Kalau itu tidak dilakukan, tema pameran sungguh bertentangan dengan kenyataan, alias tidak nyambung. Jalanan macet menjadi semakin macet, apa untungnya?