Fenomena hujan, badai dan salju saat ini semakin ekstrem. Para
peneliti berhasil mengaitkan anomali cuaca yang sering menyebabkan
banjir mematikan ini dengan pemanasan global hasil ulah tangan manusia.
Dua penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “Nature” pada bulan
Februari tahun ini menyebutkan, fenomena hujan lebat yang berkepanjangan
terkait dengan kondisi meningkatnya gas rumah kaca.
Para peneliti dari Skotlandia dan Kanada menganalisis semua fenomena
hujan dan salju ekstrem yang terjadi dari tahun 1951 hingga 1999 di
wilayah bumi bagian utara ( Northern Hemisphere). Mereka menemukan bahwa
badai yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir terbukti 7% lebih
basah. Para peneliti menyatakan temuan ini adalah temuan yang
signifikan.
Para peneliti tidak menyebut fenomena cuaca tertentu namun
menganalisis semua kejadian iklim ekstrem di wilayah bumi bagian utara.
Semua kejadian yang diteliti mirip dengan bencana alam yang terjadi
tahun lalu yaitu hujan deras yang memicu banjir mematikan di Pakistan
dan kota Nashville, Tennessee, AS serta musim dingin yang parah di
sejumlah negara bagian di AS.
Penelitian ini berakhir pada 1999 – yang menurut para ilmuwan adalah
tahun terakhir dimana pemanasan global semakin menunjukkan efeknya.
Kedua penelitian ini menurut laporan AP menggugurkan argumen yang
menyebut pemanasan global adalah “kejahatan tanpa korban” (“victimless
crime”).
Myles Allen, ilmuwan dari Universitas Oxford yang ikut menulis
penelitian kedua menyebutkan, cuaca ekstrem bertanggung jawab atas
kerugian harta dan jiwa yang dialami wilayah-wilayah tersebut. Melalui
penelitian ini, ilmuwan berhasil membuktikan bahwa banjir di Inggris
terkait dengan perubahan iklim.
Walau tidak semua kondisi hujan dan salju ekstrem memicu banjir namun
sejak tahun 1950 – menurut data bencana dari Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) – banjir sudah menelan korban lebih dari 2,3 juta jiwa.
Penelitian di Inggris berfokus pada banjir yang terjadi di England
dan Wales pada tahun 2000. Bencana ini menimbulkan kerugian sebesar
US$1,7 miliar dan tercatat sebagai musim semi paling basah selama 230
tahun terakhir.
Para peneliti menemukan fakta bahwa pemanasan global menggandakan
peluang terjadinya banjir. Untuk pertama kalinya ilmuwan berhasil
menemukan “sidik jari” pemanasan global yang disebabkan oleh ulah tangan
manusia di semua bencana alam ekstrem di sejumlah negara.
Penelitian lain kini tengah berlangsung untuk membuktikan kaitan
gelombang panas mematikan di Rusia dan banjir di Pakistan dengan
pemanasan global.
Sidik jari pemanasan global juga ditemukan di lebih dari selusin
fenomena ekologis lain seperti: meningkatnya suhu daratan dan lautan,
panas di dasar samudera, kondisi suhu ekstrem, meningkatnya permukaan
air laut, kelembapan di darat dan udara, jumlah curah hujan, kebakaran
dan mencairnya es di Antartika.
Xuebin Zhang, ilmuwan yang bekerja untuk pemerintah Kanada yang turut
meneliti kejadian iklim ekstrem ini menyebutkan, semua pertanda ini
adalah tanda pemanasan global. “Pemanasan global telah memengaruhi dan
mengepung kita dari berbagai sisi.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar